Uncategorized

Apa Prioritasmu?

Saat itu skripsi tak kunjung saya sentuh. Padahal pekerjaan saya biasa saja, tidak membuat saya kebablasan sibuk. Saya hanya tidak bisa memulainya meskipun semua kerangka pikir dan teorinya sudah matang di dalam kepala. Apa saya stress atau kurang piknik, tanya saya pada seorang kawan.

Ternyata jawabannya di luar perkiraan saya.

“Kamu gak punya prioritas, Han”

“What do you mean?” saya agak agak tersinggung gimana gitu. Saya bekerja karena saya tahu apa yang harus diperjuangkan dengan bekerja, gak punya prioritas gimana.

Pada dasarnya saya bukan orang yang mudah berteori “life must go with the flow”. Hidup harus direncanakan. Tapi kenyataannya, hidup saya selalu impromptu, tanpa perencanaan. Ujug ujug kuliah ditinggal, ujug ujug travel ke sana, ujug ujug ngerjain apa dan menggeser segala rencana yang dibuat sedari awal. Continue reading “Apa Prioritasmu?”

Advertisements
Uncategorized

MY BESTT

Hal terbaik yang pernah saya capai sepanjang hidup adalah menikah.

I marry the right guy!

Saya jarang mengumbar cerita seputar hubungan saya dengan suami. Saya rasa itu tidak perlu. Orang lain tidak perlu tahu dan saya rasa mereka juga tidak mau tahu.

Saya sering mendengar curhatan para istri di sekitar perumahan. Ada yang berkonflik dengan suaminya karena masalah keuangan, ya suaminya medit. Ada yang suaminya ekstra bersih, jadi si istri dituntut beres beres sepanjang waktu. Ada yang suaminya jarang ngobrol, tiap sampai rumah sepulang kerja yang dipegang adalah hape atau remot tv. Ada yang suaminya kurang aktif perannya sebagai ayah. Pokoknya macam macam. Dan semua itu manusiawi.

Cuma kayaknya saya dan suamilah yang gak manusiawi. Bayangkan, sejak hari pertama kenal hingga hari ini, kami hampir gak pernah ribut atau bertengkar. Paling banter, debat debat remeh yang yaaa gak berdampak apa apa. Intinya kami akur seakur akurnya.

Best gift banget kan itu?

Yaa, Alhamdulillah Allah kasih saya jodoh yang begini. Pulang kerja, rumah berantakan, dia gak protes apalagi ngomel. Paling cuma tanya, “sampean sehat hari ini? ” sambil ambil sapu beres beres. Kalau ga ada makanan juga gak marah, “ada nasi gak? ” tanya gitu doang. Kalo gak ada ya kami beli mie kuah sama sama 😂 . Gak pernah tanya duit dia dikemanain aja, pokoknya semua duit dia istrinya yang pegang. Paling cuma ngontrol tabungan ada berapa, tanpa pernah protes kenapa istrinya beli gamis baru tiap bulan. Saat weekend, dia selalu nawarin mau jalan jalan kemana, mau jajan apa, mau main apa sama Humam. Daaannn dia selalu minta ijin kalau mau tidur siang saat weekend, karena menurut dia weekend itu waktu dia melayani istri dan anaknya jadi tidur siang aja dia ijin, takut istrinya gak ridho 😫

Trus saya jadi istri bisa memulai keributam dari sisi mana? Saya nitip makanan pulang kerja, selalu dibawain. Saya pingin mudik, nginep di sana sebulan, juga diijinin. Saya pingin punya anak lagi setelah Humam 2th, ya dia setuju juga. Trus saya mau marah sama dia gara gara apa?

Itulah sebabnya hal terbaik yang pernah saya capai adalah menikah. Saya terus berdoa, agar Allah membuat kami saling mencintai karenaNya hingga dipisah maut. Aamiin 😊

Uncategorized

Purpose

Saya menyadari betul pentingnya “tujuan” dalam kehidupan kita. Tujuan selalu menjadi alasan utama bagi kita untuk bergerak. Teorinya sih mudah. Tujuan mengarahkan kita memilih prioritas aktivitas kita sehari hari dan berdasarkan prioritas itu kita bisa bekerja maksimal.

Tapi buat saya itu gak gampang. Sarjana saya dapatkan setelah 7 tahun jadi mahasiswa, padahal pada semester 7 saya sudah punya judul skripsi, hanya eksekusinya molor hingga 3 tahun. Seorang teman mengatakan bahwa saya tidak punya prioritas, tidak punya tujuan pasti, lalu saya menyepelekan skripsi. Dan dia benar.

Beberapa orang mungkin menganggap saya memiliki sedikit bakat dalam menulis. Tapi dalam hati saya, hal itu berat. Kemampuan menulis saya jelek. Tapi seorang teman penyair berkata “menjadi penulis tidak perlu bakat, duduk dan menulis saja. Sudah. Kamu akan jadi penulis” tapi saya amati diri saya lagi, barangkali saya punya ketertarikan di dunia sastra tapi menjadi penulis belum menjadi prioritas dan tujuan saya.

Membuat kesimpulan demikian juga menjadi dilema buat saya pribadi. Menolak sebuah kritik, membuat alibi, lalu kehilangan potensi. Lalu apa prioritas saya? Apa tujuan saya? Entahlah… Saya sudah 28 tahun, tapi masih seperti bocah SD yang menolak berangkat sekolah hanya karena berseragam merah putih di hari pramuka. Mungkin saya sekolah terlalu dini.

Berbicara soal purpose, saya juga mengamati orang lain. Nyatanya banyak orang lain juga mirip seperti saya. Lidahnya berkata menginginkan sesuatu tapi aksinya tak pernah menunjukkan ke sana, bahkan berbalik arah.

Seorang tetangga mengatakan menyesal anak pertamanya tidak mendapat asi ekslusif. Anaknya minum asi campur susu formula sejak bayi karena ditinggal bekerja. Dalam pikiran saya, dia pasti mengusahakan asi ekslusif untuk anak keduanya karena dia tidak lagi bekerja. Kenyataannya ternyata tidak, belum genap satu setengah tahun, si anak sudah disapih dengan alasan puting ibunya sakit hingga berdarah karena sering digigit si anak.

Sungguh saya tidak bisa menerima hal itu. Bagaimana mungkin asi untuk anaknya dilepas hanya untuk alasan itu? Saya pernah mengalaminya, persis sama. Saya hanya menjelaskan pada si anak bahwa nenen ibunya sakit agar dia menyusu lebih pelan. And it works. Beberapa hari kemudian saya sembuh dan dia bisa menyusu seperti sedia kala. Maka seperti saya juga, barangkali asi ekslusif bukan prioritas tetangga saya yang satu ini. Saya tidak pernah berkomentar, tapi diam diam saya kasihan melihat bocah yang baru bisa jalan itu disapih gara gara emaknya gak tahan sakit 😰

Kasus yang kedua. Tetangga yang lain posting di fesbuk. Baru saja dia memborong seperangkat perabot dan kitchen set. Konon semua itu berharga 26juta, harga yang fantasis untuk kaum menengah macam kami ini.

Anehnya, saya pernah melihat statusnya “kapan yaa bebas dari riba”. Saya rasanya pingin ngremus es batu dengarnya. Dia mampu membeli perabot hingga 26 juta. Minggu yang lalu bahkan dia sekeluarga touring ke Solo Yogja untuk beberapa hari. Saya berkesimpulan, dia tidak benar benar bertujuan keluar dari riba. Padahal kalau dia mau serius, saya rasa dia akan mudah melunasi KPR dan cicilan mobil karena suami istri bekerja dengan penghasilan yang bagus.

Curhat

Proses Penyapihan Humam

Sudah 5 malam Humam tidak nyusu sebelum tidur. Alhamdulillah, sedari awal memang kami merencanakan pemberian asi untuknya cukup 2 tahun, kurang jangan, kalau lebih jangan lama-lama he he. Saya rasa minggu depan Humam sudah bisa dikatakan lepas asi sama sekali saat usianya 26bulan kurang seminggu.

Usia 24 bulan kami mulai menyapihnya. Kesalahan saya saat itu adalah langsung memutuskan Humam tidak boleh menyusu sebelum tidur. Hasilnya Humam tantrum semalaman. Saya kemudian berpikir bagaimana cara melepaskannya dari asi, sementara Humam adalah tipikal anak yang nyusu karena pingin ngempeng, bukan karena lapar.

Saya bertanya pada ibu-ibu tetangga yang anaknya sudah balita. Ada yang menyarankan diberi pare, liptik, minyak telon sampai betadine (sambil bilang ke anak “nenen mamah sakit/pahit dsb”). Saya masih ragu menggunakan cara itu. Akhirnya saya mendapatkan sedikit pencerahan dari seorang guru TK yang rumahnya pojokan. Katanya jangan memberikan manipulasi apapun pada saat ingin melepas asinya karena itu artinya orang tua mengajari anak berbohong. Ketika misalnya adiknya lahir dan diberi asi, maka dia akan berpikir “Dulu kata ibu nenennya sakit, gak boleh nenen, tapi kenapa sekarang adik boleh nenen” Proses melepaskan asi memang tidak mudah, tapi pasti bisa dilakukan segentle mungkin tanpa berbohong pada anak. Continue reading “Proses Penyapihan Humam”

Pemikiran

What’s Your Mission?

Agenda pagi tadi seperti biasa. Setelah belanja Humam nggelar dagangannya di garasi 🙂 Dia mengeluarkan beberapa buku dan asyik membolakbalikkan bukunya, sesekali ngrebut kembali bukunya yang dipinjam anak tetangga. ha ha. Dia belum bisa berbagi. Setiap hari entah buku, mainan, tidak satupun yang boleh dipegang oleh teman-temannya.

Ibu si anak yang rebutan buku sama Humam ini lantas curhat “Saya tuh sama suami gak se-visi, Mah” terangnya. Saya biarkan dia bercerita. Katanya suaminya kurang berkenan bila istrinya membelikan banyak buku untuk anak-anak mereka. Padahal sang istri yang notabene sama sekali tidak suka buku paham betul bahwa anak-anaknya sangat menyukai buku. Si istri ingin menyisihkan belanja bulanannya untuk membeli buku, tapi belum mendapat restu “Ayah, gak baca buku nyatanya juga pinter, Buk” begitu kata si Ayah.

Kasus lain, masih tetangga saya 🙂 Istrinya sangat bersemangat membaca buku parenting, ikut seminar, dan juga memodali anak semata wayangnya dengan berbagai mainan edukatif dan buku-buku berkualitas. Tapi sang suamilah yang ternyata tidak mendukung langkahnya. Anak mereka terlalu ia manjakan. Setiap mainan yang diinginkan langsung dibelikan. Anaknya difasilitasi dengan berbagai games di ponsel pintar. Ternyata sudut pandang si istri berbeda dengan suami, lantas konflik konflik kecil terjadi. Si anak tidak jelas kemana arah pendidikannya. Ibu bilang A, ayah bilang B. Anak cenderung mengikuti ayahnya karena bisa leluasa meminta apapun. Continue reading “What’s Your Mission?”

Curhat

Persiapan Kehamilan Kedua

Saya deg degan.  Bukan karena lapar atau sedang nonton drakor episode terakhir. Akhirnya saya fix membulatkan tekad untuk program hamil lagi bulan november ini.
Saya telah menimbang banyak hal. Pertama,  psikologis Humam. Dalam masa toilet training dan lepas ASi ini progressnya cukup baik.  Tantrum masih terjadi sekali dua kali. Saya rasa itu wajar. Saya mulai nyaman dengan diri saya sendiri dan juga relax selama pengasuhan Humam.  Nothing to worry.  Senyampang saya hamil,  insyaAllah Humam bisa pipis dan BAB secara mandiri. InsyaAllah jumat ini saya akan mulai menyapih dia di malam hari. 

Pertimbangan kedua adalah soal waktu. Usia kami 28 tahun,  jika diberi kelancaran oleh Allah,  maka usia 29 kami sudah punya anak 2. Menunda punya anak bagi kami artinya memperpanjang masa mendidik,  merawat dan menafkahi mereka padahal umur kami tak mungkin bertambah muda.  Semakin tua maka keberdayaan kami akan semakin berkurang.  

Lain hal dengan hitungan saya soal kelahirannya nanti.  Bila lancar saya akan melahirkan bulan juli atau agustus. Sekitar 1 bulan setelah lebaran.  Persis sama seperti Humam dulu. Maka saya bisa di Surabaya saat lebaran hingga melahirkan. 

Sebetulnya minggu yang lalu saya kontrol kandungan ke obegyn.  Tapi yaa gitu. Dokternya cuma bilang,  rahimnya bersih. No comment.  No suggestion. Saya minta cek tokso dll.  Ternyata harganya cukup mahal untuk ukuran kami.  Akhirnya dibatalkan. 

Okelah.  Sekarang persiapan lebih saya lakukan untuk mempersiapkan fisik.  Saya harus sehat.  Berat badan terkontrol. Asupan makanan dikontrol.  Olahraga. Baca buku dan referensi seputar vbac. Tingkatkan ibadah dan lebih banyak berdoa.

Semoga Allah membantu, membimbing,  memberi kemudahan dan kelancaran.  Aamiin ☺

Uncategorized

Bake Your Mood

Please, jangan percaya foto ini.  Penampakannya emang kurang sedap, tapi insyaAllah masih layak makan. Humam masih cuil cuil sedikit bolunya sambil main mobil-mobilan.

Yup, mari ngomong masalah utama mamak mamak jaman now.

Kalau saya masalah utama dalam menjalani profesi sebagai Ibu Rumah Tangga adalah soal mood. Ibu-ibu yang bekerja gak akan ngerasain badmood, gak tahu mesti ngapain, bingung kerjaan mana yang harus dikerjakan duluan.

Bangun pagi kesiangan (berarti bangun siang yaa  -_- ) sholat subuh buru-buru, antar pak Su ke depan perumahan atau juga belanja (udah siang so pasti gak kebagian lauk seger). Di rumah lihat tidak ada satu ruanganpun yang tidak berantakan. Cucian piring numpuk, baju kotor menggunung, buku dan mainan berserakan dimana-mana. Anak jangankan sarapan, mandi aja belum. Mamaknya? Jangan ditanya, sudah seminggu rambutnya gak ketemu sisir. How you start these kind of day? Continue reading “Bake Your Mood”